BeritaKemensos

Gula Aren Kemensos yang Membuat Warga Parigi Moutong Sejahtera

20
×

Gula Aren Kemensos yang Membuat Warga Parigi Moutong Sejahtera

Sebarkan artikel ini
Perajin gula aren di Desa Ogotumubu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah
Perajin gula aren di Desa Ogotumubu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. (f/humas)
Mjnews.id – Para perajin gula aren di Desa Ogotumubu, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, sangat berterima kasih kepada Kementerian Sosial (Kemensos).
Berkat peran dan bantuan Kemensos, kesejahteraan warga meningkat, penghasilan bertambah, bisa mendapatkan rumah dan tidak kesulitan lagi menyekolahkan anak-anaknya.
“Kalau tidak dibantu Kementerian Sosial, tidak mungkin kami bisa begini,” kata Asri, Ketua Kelompok Petani Aren, yang merupakan warga Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Desa Ogotumubu, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Minggu 5 Mei 2024.
Desa yang terletak di Teluk Tomini ini lokasinya sekitar 300 kilometer sebelah utara Kota Palu yang merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.
Kesuksesan warga bermula ketika tahun 2018 Kementerian Sosial mendampingi 77 kepala keluarga warga Komunitas Adat Terpencil (KAT) Dusun V Molomamua, Desa Ogotumubu dalam pembangunan pemukiman sosial berupa 73 unit rumah.
Selain itu, Kemensos juga memberikan bantuan jaminan hidup, peralatan kerja, peralatan rumah tangga serta pendampingan sosial.
Saat melakukan pendampingan sosial inilah warga yang biasanya membuat gula aren dari hasil penyadap nira dan mengolahnya menjadi gula, diubah oleh Kementerian Sosial.
Tidak terlalu sulit mengubah dari kebiasaan membuat gula aren menjadi gula semut, karena bahan bakunya sama dan tersedia melimpah di dusun tersebut. Hanya proses akhirnya saja yang berbeda.
Ketika diolah menjadi gula semut, harga jualnya langsung naik tajam. Jika sebelumnya dari hasil mengolah gula aren para perajin hanya mendapatkan penghasilan Rp 500.000 – Rp 700.000 setiap kali mengolah, kini setelah cairan nira diolah menjadi gula semut harganya melonjak tajam menjadi sekitar Rp 2.000.000 dengan bahan baku yang jumlahnya sama.
“Tidak sulit pula melakukan pemasaran,” kata Dini, pendamping KAT para pembuat gula semut di Desa Ogotumubu.
Konsumen gula semut sebagian besar kafe-kafe serta hotel berbintang yang membutuhkan gula semut untuk campuran kopi, teh atau makanan lainnya. Para perajin biasanya menyebut gula semut Kemensos karena proses pembuatannya diawali melalui pelatihan dan pendampingan oleh Kemensos.
Kini warga merasakan manfaat dari perubahan mengolah gula aren menjadi gula semut karena penghasilan dan kesejahteraan warga meningkat.
“Terima kasih Kemensos yang telah banyak membantu dan memberdayakan kami,” kata Asri dengan suara mantap.
(*)
Kami kini hadir di Google News
Banner 120x600 pixels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *